Tampilkan postingan dengan label GENRE CLASSIC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GENRE CLASSIC. Tampilkan semua postingan

Selasa

Mengenai Francesco Corbetta




Francesco Corbetta (tahun 1615 - 1681) dilahir di Pavia - Italy adalah seorang Virtuoso Guitar, Pengajar & Komposer. Ia bekerja sebagai musisi di Istana Raja Louis XIV di Paris kemudian mengembangan musik di Inggris. Ia adalah satu satu Virtuoso Guitar terbesar di Era Baroque. Corbetta menulis 5 buku untuk yang berisi Pelajaran bermain Gitar. Pada awalnya Komposisi Corbetta mengikuti gaya Italy, kemudian juga dipengaruhui oleh Tradisi Perancis. Sebagai seorang Guru musik yang sukses ia memiliki murid yang hebat dalam musik antara lain : Robert de Visee, Giovanni Battista Granata, dan Remy Médard, serta Ratu Anne dari Britania Raya, dan Raja Louis XIV dari Perancis. 5 (lima) karya Corbetta yang terkenal yaitu :
* Scherzi Armonici ( Bologna , 1639)
* Varii Capriccii per la Chitarra Spagnola ( Milan , 1643)
* Varii Scherzi di Sonate per la Chitara Spagnola, Libro Quarto ( Brussels , 1648)
* La Guitarre Royalle, dediée au Roy de la Grande Bretagne ( Paris , 1671)
* La Guitarre Royalle (1674)

Beberapa karya Corbetta yang masih sering dimainkan antara lain :
Passacaglia by Corbetta for Baroque Guitar

Chaconne in C Major by Corbetta for Baroque Guitar

Mengenai Santiago de Murcia

Santiago de Murcia dilahirkan di Madrid 25 Juli 1673 & meninggal di Madrid - 25 April 1739. Dari koleksi buku musik yang ia tulis, de Murcia adalah seorang Master Gitar & Komposer. Penilitian hingga tahun 2008 diperoleh informasi bahwa beliau terlahir dari orangtua yang bernama Juan de Murcia & Magdalena Hernandez & ia menikah di tahun 1695 dengann Josefa Garcia. Dari manuscript musik Murcia diperoleh informasi bahwa ia adalah Guru Gitar untuk Ratu Maria Luisa dari Spanyol (Istri Raja Felipe V). Dalam perjalanan ke Italia ia bertemu dengan Komposer Arcangelo Corelli & Alessandro Scarlatti dan bekerja juga ke Meksiko dan ini mempengaruhi gaya musiknya. 2 (dua) koleksi musik warisan Murcia untuk Gitar adalah "Passacalles y obras" and "Codice Saldivar no. 4" memberikan warna musik yang berbeda untuk Gitar Baroque, karena koleksi ini mempunyai gaya yang berbeda dengan yang telah ada sebelumnya.

Anda simak dengan baik karya Santiago de Murcia ini dan coba bandingkankan gaya musiknya dengan Komposer Baroque yang sebelumnya:

KOMPOSER BESAR GUITAR ERA ZAMAN CLASSICAL (1750 - 1820/1840)

Sebelum masuk ke Zaman Classical, musik gitar mengalami masa vakum dimana pada saat itu musik lainnya lebih terkenal seperti Violin, Cello, Flute & Piano, dimana pada masa itu Alat-alat musik ini lebih banyak dipakai baik untuk Solo maupun Orchestra. Miguel Garcia adalah Komposer & Guitarist yang mulai mengaktifkan lagi musik Gitar ini setelah vakum dari era transisi Baroque ke era Classical. Ia juga menambah 2 (dua) senar Bas untuk gitar sehingga menjadi 7 Senar dan akhirnya dimodifikasi kembali menjadi 6 senar, dan menghasil murid yang luar biasa seperti Federico Moretti & Dionisio Aguado. Federico Moretti di lahirkan di Napoli, Italia tetapi bermukin di Spanyol, Tahun 1799 ia mempublikasikan buku gitar "Basics of the Six String Guitar" ini merupakan Pondasi awal dari lahirnya teknik gitar modern.Ia bekerja pada awal jaman kejayaan Gitar (Golden Age) dan menghasilkan Guitarist seperti Fernando Sor, Dionisio Aguado & Mouro Guiliani. Para Komposer & Guitarist yang populer pada Zaman Classical ini antara lain :

* Fernando Sor 1778-1839
* Dionisio Aguado 1784-1849
* Mauro Giuliani 1781-1829
* Matteo Carcassi 1792-1853
* Ferdinando Carulli 1770-1841
* Napoléon Coste 1806-1883
* Joseph Kuffner 1776-1856
* Filippo Gragnani 1767-1812
* Luigi Boccherini 1743-1805
* Anton Diabelli 1781-1858
* Fernando Ferandiere 1771-1816
* Francois de Fossa 1775-1849
* Luigi Legnani 1790-1877
* Antoine de Lhoyer 1768-1852
* Wenzeslaus Matiegka 1773-1830
* Johann Kaspar Mertz 1806-1856
* Francesco Molino 1768-1847
* Pietro (Pierre) Porro 1750 - 1831
* Fernando Sor 1778-1839
* Franz Werthmüller 1769 - 1841




Fernando Sor terlahir dengan nama Baptis Josep Ferran Sorts i Muntades, dilahir di Barcelona Spanyol 14 Feb 1778 - Meninggal 10 Juli 1839. Ia adalah Komposer & Guitaris yang sangat terkenal dengan Komposisi Musik Gitarnya baik untuk pemula maupun untuk tingkat lanjut. Sor terlahir dari keluarga yang kaya dan ayahnya memiliki karier sebagai tentara kerajaan. Semula F Sor diharapkan untuk mewarisi karier orangtuanya, tetapi hal ini berubah karena ia lebih menyenangi musik opera. Waktu itu F Sor baru mengenal Guitar sebagai alat musik yang mudah masih dianggap rendahan pada masa itu jika dibandingkan dengan Alat musik lainnya di Orchestra. F Sor yang masih kecil pada waktu memiliki kemampuan untuk menulis sistem notasi musik sendiri mengingat pada waktu itu ia belum mendapat pendidikan musik. Karier musiknya tidaklah semulus yang diperkirakan orang seperti namanya yang sangat terkenal sampai saat ini. Setelah ia meninggalkan negara Spanyol ia mencoba kariernya sebagai Virtuoso Guitar & Komposer di Perancis, tetapi karyanya dianggap aneh dan tidak disukai orang. Kemudian ia mencoba lagi Ke Inggris dan iapun mulai terkenal dan juga mencoba menulis buku musik gitar untuk Balet & Opera. Tahun 1823 ia sudah sangat terkenal di London dan mulai mengembangkan musik gitarnya ke Rusia hingga 3 tahun tinggal di Moskow. Dimasa tuanya ia kembali ke Paris dan memutuskan hidupkan sebagai penulis buku Gitar dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Salah karya besarnya adalah "Methode La Guitara" yang diterbitkan di Paris tahun 1830. Beberapa karya besarnya yang disukai orang antara lain : Grand Solo op 14, "Theme and Variations on Mozart's the Magic Flute Opus 9", Sonata op 15 & 22, Introduction and variation over the "Malbroug aria". Op. 28, Minuet, Waltz dan Etude (Study). & 20 Study yang dipilih oleh Andres Segovia sebagai bahan latihan / Study Guitar dan masih banyak karya lainnya yang sampai saat ini dipergunakan oleh sekolah musik gitar di seluruh dunia.





Mengenai Dionisio Aguado



Dionisio Aguado (1784-1849) lahir di Madrid - Spanyol, Ilmu Gitarnya diperolehnya dari Miguel Garcia. Tahun 1825 ia pindah ke Paris dan bertemu dengan Gitarist Besar Fernando Sor dan menjadi sahabat Sor. Mereka berdua tinggal bersama sehingga dikenal orang dengan sebutan "The Two Friends". Walaupun bersahabat dalam menguasai teknik dan methode gitar mereka berdua berbeda dan disinilah ia mengenalkan methode menggunakan kuku dijari kanan. Karya besarnya tidaklah kalah jika dibandingkan dengan Sor, "Escuela de Guitarra" diterbitkan tahu 1825 dan masih ada sampai saat ini. Karya lainnnya yang cukup terkenal dan sekarang dimainkan dengan luar biasa oleh "Julian Bream" yaitu Rondo in A Minor yang merupakan bagian dari Trois Rondos Brilliants Op. 2. Beberapa koleksi dari Aguado antara lain : des Estudios Para Guitarra pada tahun 1820, Escuela de guitarra pada tahun 1825 dan Methode berikutnya Complète pour La Guitare. Methode latihan juga meliputi pengembangan peregangan jari kiri agar dapat memainkan notasi-notasi yang lebih jauh. Ini karya Aguado yang terdapat di Museum Argueologico di Madrid :
* Op. 1 : Douze Valses
* Op. 2 : Trois Rondo Brillants
* Op. 3 : Huit Petites Pièces
* Op. 4 : Six Petites Pièces
* Op. 5 : Quatre Andantes et Quatre Valses
* Op. 6 : Nuevo Método de Guitarra
* Op. 7 : Valses Faciles
* Op. 8 : Contredanses et Valses Faciles
* Op. 9 : Contredanses non difficiles
* Op. 10 : Exercices Faciles et Très Utiles
* Op. 11 : Les Favorites - Huit Contredanses
* Op. 12 : Six Menuets & Six Valses
* Op. 13 : Morceaux Agréables non difficiles
* Op. 14 : Dix Petites Pièces non difficiles
* Op. 15 : Le Menuet Affandangado
* Op. 16 : Le Fandango Varié
Tahun 1838 ia kembali ke Madrid, dan pada tahun 1849 ia meninggal. Sampai saat ini Methode Gitar Aguado juga dipakai oleh sekolah musik di seluruh penjuru dunia.

Mengenal Mauro Guiliani



Mauro Guiliani dilahir di Bisceglie - Italia 27 Juli 1781 dan meninggal 8 Mei 1829 dengan nama lengkap Giuseppe Mauro Guiliani Pantaleo Sergio. Ia merupakan seorang Komposer & Virtuoso Gitar yang setara dengan Fernando Sor, dimana banyak orang dibelahan dunia ini mempelajari teknik gitar yang ditulisnya dan ia juga dianggap pelopor untuk kebangkitan gitar menuju Golden Age (Zaman Keemasan). Sewaktu kecil ia sudah mendapat pendidikan Cello & Biola, tetapi kemudian hari ia lebih menyukai Gitar dan sangat terampil dibandingkan dengan kebanyakan orang. Guiliani menikah dengan Maria del Guiseppe Monaco. Tahun 1807 ia mempublikasikan komposisi musik Gitarnya. Karier musiknya bermula di Winna - Austria, dimana ia mengadakan Tur Konser dan akhirnya membawa ia keliling Seluruh Eropa. Dalam waktu singkat namanya sudah terkenal sebagai Virtuoso Gitar dan mencapai sukses yang besar sebagai salah seorang selebiriti musik pada waktu itu. Dengan pamornya yang top, ia dapat berkenalan dengan Komposer terkenal seperti Beethoven & Rossini dan menjadi lebih terkenal lagi. Tahun 1819 ia mendapat masalah keuangan dan akhirnya pindah ke Roma dan menetap disana. Di Roma popularitasnya turun, walaupun begitu ia tetap menerbitkan komposisi Gitarnya dan tetap melakukan konser walaupun skala yang lebih kecil. Hasil karyanya tetap dipakai dan dimainkan orang sampai saat ini, termasuk "Le Rossiniane" yang menggunakan tema dari opera Rossini. Karya yang asyik untuk kita mainkan antara lain : Variations on thema of Handel, Rosianiana, Allegro Spirituoso, Grand Overture, Rondo, Sonata dan lainnya.

Mengenal Meteo Carcasi


Beliau dilahirkan di Florence th 1792 - meninggal di Paris 1853, Selain Sor - Aguado - Guiliani, Carcasi juga seorang Komposer & Guitarist handal pada zaman itu. Namanya dikenal oleh semua orang yang belajar Gitar karena komposisinya yang sederhana yang enak dimainkan oleh semua orang dan Methode yang dibuatnya menjadi standar untuk semua sekolah Gitar Klasik di penjuru dunia. Dengan umur yang masih anak-anak ia memulai belajar Piano tetapi akhir ia lebih menyukai Gitar, Carcasi sudah terkenal dan ia berkarier sebagai Komposer & Virtuoso Guitar. Ia bersama temannya Guitarist Antoine Meissonier mencoba mengembangkan diri di London dengan menjadi Guitarist & Pengajar disana, sebelum itu ia juga sangat terkenal sebagai Guitarist di Paris. Karyanya memiliki sytle yang khusus dengan melody-melody yang jernih dan memiliki tingkat kesulitan yang sedang. Dalam buku Methode Guitarnya Carcasi memberikan pelajaran-pelajaran penting yang tetap dipakai sampai saat ini antara lain : Teknik Harmonic/Harm, Latihan Jari kiri & kanan, Latihan Ornamentasi, Vibrasi, Tambour, Arpeggio ... dan lain-lain.

Banyak karya Meteo Carcasi yang dimainkan kembali oleh Guitarist Zaman sekarang dan termasuk kita semua yang senang dengan Gitar Klasik dan beberapa karyanya antara lain : Fifty Progressive Study Pieces yang berisi latihan untuk mengembangkan kemampuan dasar & teknik gitar, Etude/Study short pieces untuk pemula seperti "Maestoso" untuk latihan Sustained, "Allegreto" & "Slur Waltz" untuk latihan Slur, "Capriccio" untuk latihan Arpeggio dan lain-lain. Dari Latihan yang diberikan oleh Carcasi kelihatan bahwa komposer yang satu ini menyenangi musik berirama Tarian Waltz & Cendrung Riang. Bagi kita yang masih pemula dalam belajar Gitar Klasik, buku Carcasi dapat dijadikan supplemen untuk meningkat latihan jari kiri dan kanan.

Karyanya yang paling sangat terkenal dikoleksi dalam 25 Etude Op 60 yang merupakan aset berharga untuk kita semua.

Mengenal Joao Pernambuco



João Teixeira Guimarães atau Joao Pernambuco dilahirkan di Jatoba , 2 November 1883 - Rio de Janeiro dan meninggal 16 Oktober 1947 . Pernambuco adalah seorang Komposer dan Gitaris asal Brazil. Pernambuco belajar Viola semenjak ia masih kecil, tetapi akhirnya ia belajar bermain Gitar dan bernyanyi karena terinspirasi oleh musisi lokal disana. Pernambuco berasal dari keluarga miskin, karena itu pendidikan musik formalnya tidak ada, tetapi kemampuan otodidaknya yang sungguh luar biasa. Tahun 1902 ia pindah ke Rio Jeneiro dan tinggal bersama dengan kakaknya dan ia bekerja sebagai buruh. Kerena keahliannya bermain gitar ia mulai bekerja sama dengan Gitaris-gitaris yang lebih terkenal disana. Karena ia kurang memiliki pengetahuan tentang menulis komposisi ia meminta orang lain untuk menuliskan komposisi yang ia mainkan. Semenjak itu ia sudah mulai menulis komposisi-komposisi Gitarnya. Choros No. 2 atau Sons de Carilhôes (Sound of Bells) adalah salah satu karya yang luar biasa dari Pernambuco. Tahun 1913 ia membuat Group musik dan melakukan performance dimana-mana bersama Afonso Arinos dan Rui Barbosa.
Hasil karyanya kurang terpublikasi dengan baik malahan sebaliknya dibajak dari berbagai pihak, walaupun pada akhirnya diakui juga sebagai Komposer dan Gitaris Choro yang terkenal atas bantuan dari Heitor Villa Lobos. Gaya komposisinya sesuai dengan keadaan di Brasil (Amerika Selatan - Latin), sehingga sering disebut orang Guitar Latin. Beberapa komposisi gitar Pernambuco yang banyak dimainkan Gitaris antara lain : Choro No. 2 atau Sons de Carilhoes, Choro No. 1, Mimoso, Rebolico, Grauna, Sonho de Magia, Jongo, Interrogando, Po De Mico dll

Choro No.2 (Sons de Carilhoes) dalam beberapa version :

















Mengenal Manuel Ponce



Manuel María Ponce Cuellar atau dikenal Manuel Ponce adalah seorang Komposer & Guru Musik asal Meksiko yang dilahirkan 8 Desember 1882 di Fresnillo dan meninggal 24 April 1948. M. Ponce adalah komposer aktif abad 20 di Zaman Golden Age. Komposisi musiknya diwarnai oleh harmoni dan nyanyian tradisional. M. Ponce terkenal jenius karena memiliki talenta musik semenjak kecil dan sudah mendalami Piano. Ditahun 1901- 1903 ia sudah memiliki prestasi sebagai Komposer dan Pianis. Tahun 1904 - 1908 ia melanjutkan studi musik di Bologna (Italia) dan Berlin (Jerman). Tahun 1909 - 1915 ia kembali ke Meksiko dan mengajar Piano di sana, lalu tahun 1915-1917 di berkarier di Kuba. Tahun 1920, Ponce bertemu Komposer Brasil Heitor Villa Lobos.

Banyak karya Ponce yang masih dikenal dan dimainkan hingga saat ini, salah satu yang terkenal adalah Estrellita yang ditulis pada tahun 1912. Ia juga banyak menulis Komposisi Gitar untuk sahabatnya Andres Segovia. Beberapa karya komposisi Gitarnya yang masih populer antara lain : Scherzino Mexicano, Sonata Classica, Sonata Romantica, Prelude, Estrellita, Tree Mexican Folk Song dll.
















Mengenal Heitor Villa Lobos



Heitor Villa Lobos dilahirkan di Rio de Janeiro - Brasil tanggal 5 Maret 1887 dan meninggal tanggal 17 November 1959. Villa Lobos adalah Komposer Brasil dan Pemain Cello, tetapi karya Gitarnya juga dikenal oleh para Gitaris Klasik. Villa Lobos banyak menulis karya gitar diperuntuk bagi Segovia yang pada waktu itu sangat populer. Kebanyakan karyanya memuat unsur musik rakyat Brasil, namun ia juga menggunakan unsur gaya musik impresionisme, ekspresionisme, barok, dan klasik. Villa-Lobos adalah komponis musik klasik dari Amerika Selatan yang paling terkenal.

Pada masa kecil ia belajar musik dari ayahnya, seorang pemusik. Tahun 1899 saat ayahnya meninggal dunia, Villa Lobos sudah menjadi seorang pemusik profesional dan bekerja sebagai pemusik di kafe dengan bermain Cello. Tahun 1905 Villa Lobos melakukan perjalanan pertamanya ke daerah timur laut Brasil untuk mengumpulkan musik rakyat. Selanjutnya, dia menempuh studi di institut musik nasional di Rio de Janeiro. Setelah perjalanan berikutnya ke pedalaman Amazon pada tahun 1912, Villa-Lobos kembali ke Rio de Janeiro. Pada tahun 1923, dia memperoleh beasiswa dari pemerintah untuk belajar di Paris. Setelah ia kembali ke Brasil pada tahun 1930, Villa-Lobos dijadikan direktur pendidikan musik di Rio de Janeiro.

Dia lalu merancang sistem pendidikan musik bagi generasi-generasi masyarakat Brasil. Sistem tersebut didasarkan pada budaya musik Brasil yang kaya dan berakar pada patriotisme. Dia menggubah musik untuk paduan suara anak-anak sekolah, seringkali mengadaptasi dari musik rakyat. Pengaruh Villa Lobos bagi generasi masyarakat Brasil hingga kini adalah rasa cinta terhadap tanah air.

Pada tahun 1944, Villa Lobos mengunjungi Amerika Serikat untuk memimpin penampilan karyanya (sebagai dirigen). Beberapa orkestra Amerika Serikat kemudian memesan karya-karyanya, dan ia bahkan menciptakan musik untuk film Hollywood, yaitu film berjudul Green Mansions pada tahun 1945. Tahun 1940-an periode keberhasilan Villa Lobos dalam skala internasional. Sebagai komponis dan dirigen atas pembawaan karya-karyanya, Villa Lobos berpindah-pindah dari Los Angeles ke New York dan ke Paris. Ia meninggal dunia di Rio de Janeiro.

Villa Lobos menggubah musik untuk piano, gitar, alat musik gesek, orkestra, musik kamar, beberapa opera, balet, dan sebagainya. Selain beberapa karyanya yang hilang, sebagian besar karya tersebut sering ditampilkan maupun direkam. Karya Villa Lobos yang paling terkenal adalah Bachianas Brasileiras nomor 5, yang digubah untuk vokal dan delapan cello, namun ditampilkan dalam berbagai kombinasi alat musik lainnya. Karya-karyanya untuk solo gitar juga terkenal antara lain : Choro No. 1, Marzuka Choro, Prelude & Etude/Estudio dll












MENGENAL Julio Salvador Sagreras


Julio Salvador Sagreras adalah Gitaris & Komposer asal Argentina, yang lahir tahun 1879 dan meninggal 1942. Ia berasal dari Keluarga musik dimana kedua orangtuanya adalah Gitaris, sehingga dari sejak kecil ia sudah belajar dari orangtuanya. Dengan kemampuan yang baik dan cepat menguasai pelajaran Gitar mendorong ia menjadi Pengajar di Academia de Bellas Artes, di Argentina. Seorang editor yang bernama Francisco Nuñez bersedia mempublikasikan karya Sagreras, sehingga dapat dikenal orang. Pada tahun 1905 ia membuka sekolah sendiri yaitu Academia de Guitarra. Selang tahun 1900 - 1936, Sagreras menggelarkan Konser baik di Gedung Konser maupun di tempat hiburan lainnya serta aktif dalam siaran radio. Beberapa karya juga dipakai untuk sekolah Musik, karena Segreras juga menekan-kan pada penguasaan teknik bermain gitar.

Beberapa karyanya yang sangat disukai Gitaris hingga saat ini antara lain :
Maria Luisa, Elisa, Madgalena, El Colibri, Sonatina Estudio, Marzuka, dll

Di Sekolah Musik orang mengenal Sagreras lewat Maria Luisa & El Colibri, karena kedua Musik Gitar ini yang paling disukai orang banyak.













MENGENAL AGUSTIN BARRIOS MANGORE



Agustín Barrios Mangoré dikenal sebagai Gitaris Paraguay (Paraguyan Guitarist) dan Komposer yang dilahirkan di San Juan Bautista di daerah Misiones - Paraguay tgl 5 Mei 1885 dan meninggal 7 Agustus 1944 di San Salvador - Elsavador. Dimasa kecilnnya Barrios menyukai musik dan sastra, sehingga ia bisa menguasai 2 bahasa yaitu Spanish & Guarani dan bisa membaca dalam 3 bahasa yaitu Inggris, Perancis dan Jerman. Kecintaannya pada Gitar mulai muncul saat ia mulai remaja sekitar usia 15 tahun sewaktu ia mendapat beasiswa musik di Universitad Nacional de Asuncion di tahun 1901. Setelah selesai kuliah ia berkarier dibidang musik dan sastra, dimana lebih dari 300 karya musik & lirik ditulisnya.
Barrios terkenal sebagai Gitaris Klasik Pertama yang membuat rekaman yaitu di tahun 1909. Selama konser Barrios selalu tampil dengan pakaian tradisional Paraguay. Salah satu karya besarnya adalah La Catedral (1921) yang terinspirasi dari Karya Bach yang pernah membuat Segovia kagum saat bertemu di Buenos Aires - Argentina. Menurut Segovia, Barrios menjanjikan untuk mengirimkankan salinannya tetapi Segovia tidak pernah menerimanya. Ada masalah apa yang terjadi antara Barrios dan Segovia??? hanya mereka yang tahu.
Barrios meninggal dan dikuburkan di Cementerio de Los Ilustres di San Salvador, El Salvador pada tanggal 7 Agustus 1944. Menurut John Williams, Agustin Barrios Mangore adalah Guitaris & Komposer Besar terbaik yang pernah hidup di era ini. Dibalik semua itu Agustin Barrios Mangore sangat mengagumi Fransisco Tarrega, karena menurut beliau tanpa Tarrega kita tidak mungkin ada. Mungkin ia juga belajar dan menguasai teknik Tarrega.
Karya-karya besarnya hilang begitu saja, tetapi berkat Gitaris John William mempopulerkan kembali karya "Guitarist Paraguayan" ini menjadi lebih dikenal orang sampai sekarang. Beberapa karya Barrios antara lain :
Aconquija (Suite Andina), Allegro Sinfónico, Bicho Feo, Chôro da saudade, Danza Paraguaya, Estudio de Concierto, Julia Florida, La Catedral , Maxixa, Vals op 8 no 3, Vals op 8 no 4, dll.




















MENGENAL MIGUEL LLOBET




Miguel Llobet adalah seorang Gitaris Klasik dan merupakan murid dari Fransisco Tarrega. Llobet dilahir di Barcelona 18 Oktober 1878 dan wafat 22 Februari 1938. Ia dikenal sebagai Gitaris Catalana, karena banyak lagu yang ditulis dan diaransemen berasal dari Katalan. Walaupun sebagai murid Tarrega tetapi gaya bermain dan komposisinya sangat berbeda sengan Tarrega, karena cara belajarnya cukup unik yaitu dengan memahami teknik yang diajarkan gurunya, tetapi dikembangkan sendiri dengan rajin bereksperimen sendiri dan akhirnya ia menemukan caranya sendiri.

Konser pertamanya pada publik dilakukan tahun 1901 di Valencia kemudian di Sevilla dan Malaga hingga mendapat gelar professor kehormatan dan tahun 1903 tampil di keluarga kerajaan di Madrid. 1904 di Konser di Paris hingga tinggal disana sampai tahun 1910. Setelah itu ia melakukan perjalanan ke Amerika Selatan dan diterus ke Amerika Serikat tahun 1912. Pada tahun berikut ia kembali konser keliling eropa diantara ke Belgia, Jerman, Belanda dll. Tahun 1915 ia kembali ke Spanyol dan disana ia juga memberikan bimbingan pada Andres Segovia. Tahun 1922 ia bertemu di Luise Walker, dan Tahun 1923 mengajar Maria Luisa Anido dan Terus melakukan Konser di eropa dan Amerika. Tahun 1932-1934 ia mengajar Gitaris muda Kuba yaitu José Rey de la Torre. On February 22, 1938, Llobet died of pleurisy in Barcelona. Pada tanggal 22 Februari 1938, Llobet meninggal karena radang selaput dada di Barcelona.

Karya Miguel Llobet antara lain :
* Romanza
* Estudio en mi mayor
* Estudio Capricho en re mayor
* Mazurka
* Variaciones sobre un Tema de Sor
* Scherzo-Vals
* Prélude Original
* Preludio en re mayor
* Respuesta-Impromptu
* Preludio en la mayor
* Preludio en mi mayor
* Estilo

Aransemen Llobet Solo Guitar :
* Isaac Albéniz: Cádiz, Oriental, Sevilla, Torre Bermeja y Córdoba (1929)
* Enrique Granados: Danzas Españolas nos. 5, 7 & 10, Dedicatoria, La Maja de Goya.
* Joaquín "Quinito" Valverde: Clavelitos.
















MENGENAL ENRIQUE GRANADOS



Enrique Granados juga seorang Komposer & Pianis asal Spanyol yang dilahirkan 27 Juli 1867 di Lleida - Spanyol. Ayahnya Calixto Granados adalah seorang Tentara. Sejak muda ia juga sudah belajar piano di Barcelona dan kemudian belajar ke Paris dengan Francisco Jurnet dan Joan Baptista Pujol serta belajar komposisi dengan Felipe Fedrell, sehingga gayanya agak mirip dengan Albeniz. Komposisi Pianonya banyak ditranscript orang untuk Gitar dan terkenal adalah Suite Danza Espanola (Spanish Dance). Ia Meninggal diperjalanan kapal di Selat Inggris 24 Maret 1916 (umur 48 tahun), karena kapal yang ditumpanginya ditenggelamkan oleh Kapal Perang Jerman (dalam perang dunia 1).

Hasil karya Granados antara lain : 12 Danza Espanola (Piano), Maria Del Carmen, Allegro de Concierto, dll.





MENGENAL ISAAC ALBENIZ




Isaac Albeniz, adalah seorang Komposer & Pianis yang dilahirkan di Camprodon - Spanyol 29 Mei 1860. Walaupun begitu banyak karyanya dikenal oleh banyak gitaris klasik, karena komposisi pianonya banyak di transcript menjadi notasi Gitar, khususnya oleh Fransisco Tarrega & Segovia. Sejak usia 4 tahun ia sudah mengenal piano dan umur 7 tahun sudah belajar di Paris Conservatoire. Usia 15 Tahun ia sudah konser dimana-mana. Tahun 1876 ia belajar di Brussel dan Tahun 1880 ia belajar di Budapest dengan Franz Liszt. Tahun 1883 ia belajar komposisi dengan Felipe Pedrell yang kemudian memberikan dirinya inspirasi untuk membuat Suite Espanola. Albeniz wafat 18 Mei 1909 diusia 48 Th.

Karya Albeniz yang terkenal dalam Gitar Klasik antara lain :
Asturias, Sevilla, Granada, Cadiz, Mallorca, Serenata Espanola, Rumores de la Caleta, dll.









MENGENAL ANDRES SEGOVIA






Andrés Segovia dilahirkan 21 Februari 1893 dikota Linares - Spanyol. Wafat 2 Juni 1987 dalam usia 94 tahun. Segovia dijuluki "Bapak Gitar Klasik" era New Age karena dedikasinya dalam mengembangkan Gitar Klasik hingga menjadi seperti sekarang ini. Segovia dapat digolongkan sebagai Gitaris Modern Klasik karena begitu banyak komposer pada jaman itu membuat Komposisi Gitar khusus untuk segovia dan ia sendiri begitu banyak mentranskrip berbagai komposisi dari alat musik lainnya seperti Cello, Biola, Piano dll yang kadang-kadang menurut orang itu sangat sulit.

Segovia mulai bermain gitar di usia 6 tahun untuk gitar flamenco karena ketertarikan dirinya pada Gitaris Flamenco dalam memainkan alat musik Gitar ini, salah satu adalah Paco de Lucena seorang Gitaris Flamenco yang terkenal pada saat itu. Sebagai biasanya keinginan Segovia mendalami Gitar di tentang keluarganya karena pada waktu itu Gitar hanya dianggap sebagai alat musik kelas rendah yang dimainkan dicafe-cafe dan itu berbeda dengan Piano & Biola. Keinginan Segovia untuk mendalami Gitar tidak bisa dibendung, tetapi stylenya tidak seperti flamenco tetapi cenderung klasik romantik seperti Torroba. Sebagai remaja Segovia banyak menghabiskan waktu mendalami Gitar secara otodidak dan berkembang setelah bertemu Fransisco Tarrega dan selanjutnya juga banyak menerima masukan dari Miguel Llobet dan memiliki gaya belajar mirip Segovia (suka bereksperimen sendiri).

Diusia 15 Tahun Segovia memulai Konser pertama di Madrid dengan memainkan karya Tarrega dan karya Bach yang ditrascriptnya sendiri. Setelah itu ia terus konser dimana-mana, yaitu 1912 di Madrid, 1915 di Paris & 1916 di Barcelona dan 1919 di Amerika Selatan. Pada masa itu sebenarnya Gitar tidak begitu populer, hanya di Spanyol dan Amerika Selatan saja yang lebih populer, karena sebelumnya ada usaha dari murid Tarrega lainnya yaitu Miguel Llobet. Karena ada kemajuan teknologi udara & Recording membuat usaha Segovia mulai memberikan hasil dan membuat Gitar mulai populer. Tahun 1924 ia mengunjungi Jerman dalam konser di Munich dan mendapat Gitar khusus dari Luthier Hermann Huaser - Jerman untuk konser 1928 di Amerika Serikat. Setelah konser di Amerika Serikat itu, komposer brasil "Heitor Villa Lobos" menyumbangkan karya-karyanya untuk dimainkan oleh Segovia dan selain itu ia tetap memainkan trascript sendiri. Tahun 1935 ia mempersembahkan Transcript Gitar dari karya J.S Bach "Chaconna in D" yang luar biasa hebat dan sulit.

Berkat usaha keras dari Segovia dan mendapat banyak dukungan dari berbagai komposer lainnya seperti Torroba, Frederico Mompou, Joaguin Rodrigo, Manuel Ponce, Mario Castelnuovo, Heitor Villa Lobos dan lainnya, membuat Gitar semakin populer dimana-mana. Teknik permainan Segovia sangat unik, berbeda denga Tarrega dan para murid lainnya (Emilio Pujol), dimana ia dan Llobet menggunakan kombinasi kuku dan ujung jari seperti yang banyak dipakai orang sekarang ini. Ada sesuatu yang penting dimana Segovia mau mengajarkan berbagai macam teknik yang dikuasinya dan membuat kelas Master sepanjang kariernya. Kelas Master yang terkenal salah satu diadakan di Santiago de Compostela. Salah satu karya transcriptnya yang terkenal adalah 20 Estudio Fernando Sor. Selama hidup ia banyak mendapatkan penghargaan misalnya dari gelas PhD, Award dan Gelar Bangsawan Spanyol.

Juni adalah bulan yang bersejarah bagi gitar klasik. Inilah bulan ketika pioner gitar klasik modern Andres Segovia, pada 2 Juni 1987, menghembuskan nafas terakhirnya di usia 94 tahun. Hingga akhir khayatnya Segovia telah mendedikasikan hidupnya untuk gitar klasik. Ia adalah penerus Tarrega, dengan kemampuan yang lebih inovatif.

Kritikus musik “The New York Times” Donal Henahen mengulangi kutipan wawancaranya dengan Andres Segovia, ketika menulis kolom “Obituary” pada edisi 4 Juni 1987, ketika sang maestro sudah tiada. Dalam wawancara yang terjadi ketika Segovia masih berusia 75 tahun itu, sang maestro mengungkapkan empat alasannya mengapa hingga akhir hidupnya ia mendedikasikan hidupnya untuk benda bernama gitar klasik.

“Pertama, untuk mengembalikan gitar saya dari ketenaran Flamenco. Kedua, saya ingin menggubah sebuah reportoir – Anda tahu bahwa hampir semua komponis hebat saat ini telah menciptakan repertoir untuk gitar; baik untuk saya maupun untuk murid-murid saya. Ketiga, saya ingin menciptakan sebuah komunitas untuk gitar klasik. Sekarang, saya telah memenuhi gedung pertunjukan musik terbesar sekalipun di berbagai negara, dan sebagian besar mereka yang datang adalah anak muda – saya sangat bangga karena telah mampu mencuri perhatian mereka dari ketenaran The Beatles. Keempat, saya telah ditetapkan sebagai orang yang mengangkat gitar sebagai alat musik yang memiliki kehormatan sejajar dengan piano, biola dan instrumen konser klasik lainnya di sekolah-sekolah musik,” katanya.

Menjadi murid Segovia menjadi menjadi sebuah kehormatan tersendiri bagi para gitaris-gitaris besar selanjutnya. Beberapa gitaris (kini menjadi gitaris klasik besar dunia) yang pernah menjadi muridnya adalah Julian Bream, John Williams, Christopher Parkening, Alirio Diaz, Oscar Ghiglia.

Hasil kerjanya adalah Gitar Klasik yang kita kenal sekarang ini dan begitu banyak menginspirasi untuk orang belajar Gitar.












Mengenal Francisco Tarrega

Bulu kuduk Anda pasti merinding jika mendengar “Romance D’ Amore” ketika John Williams memainkan gitar klasiknya dengan penjiwaan yang begitu dahsyat. Virtuoso gitar klasik, yang adalah didikan Andres Segovia itu, serasa akan membawa Anda ke dunia cinta (Amore -Red) yang belum pernah Anda jelajahi, barangkali. Ya, begitulah gitar klasik. Akan beragam imajinasi yang tercipta tatkala Anda mau menyisakan waktu Anda untuk mendengarkannya.

Seorang mahasiswa seni musik Universitas HKBP Nommensen yang hingga saat ini masih serius menekuni gitar klasik pernah berkata,” Gitar klasik tak akan pernah mati dimakan usia, sebab ia punya jiwa. Musik-musik klasik yang bisa dibawakan dengan gitar klasik belum bisa dikalahkan oleh musik pop jaman sekarang,” kata Wonter Lesson Purba, lelaki yang mengaku menghabiskan waktunya sedikitnya lima jam lebih untuk berlatih gitar.

Tapi, tahukah Anda, bahwa dalam waktu yang lama gitar dianggap “tak ada apa-apanya”. Sebelum memasuki era abad ke 20, ekslusivitas gitar masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan alat musik klasik sejamannya yang dianggap lebih berhak memiliki tempat untuk sebuah konser klasik. Seperti biola, cello, flute, harva dan piano, misalnya. Posisi gitar dalam kancah konser musik klasik sebenarnya sudah dimulai oleh Fernando Sor.

Fernando Sor (1778-1839) adalah gitaris cum komponis kelahiran Barcelona, yang pertama kali tertarik pada musik setelah ayahnya mengajaknya menonton pertunjukan opera Italia. Sor adalah seorang bekas serdadu, yang dijuluki sebagai “Beethoven of the Guitar”. Salah satu masterpiece -nya adalah “Theme and Variations on Mozart’s the Magic Flute Opus 9″.

Namun, posisi gitar baru menjadi lebih penting ketika Fransisco Tarrega (1852 – 1909) mulai menciptakan gubahan-gubahan untuk gitar solo. Juga, etude-etude, yang ia ajarkan kepada beberapa muridnya, seperti Andres Segovia, Emilio Pujol, Miguel Llobet, yang kelas menjadi pelopor kebesaran gitar klasik di dunia. Dan teknik-teknik gitar klasik yang lebih inovatif. Juga, konser-konser yang fenomenal.

Terrega gitaris kelahiran Villareal, Castellon Spanyol, sebenarnya mengawali karir musiknya sebagai pianis. Guru musik pertamanya adalah Eugeni Ruiz, seorang pemain piano bermata buta. Kemudian ia belajar lagi ke Manuel Gonzalez, yang juga bermata buta. Tarrega sendiri sudah mengalami gangguan penglihatan sejak berusia balita karena kecelakaan. Ia terjatuh ke saluran irigasi di Villareal mengakibatkan gangguan penglihatan sepanjang menjalani karir musiknya.

Pada 1862, seorang komponis dari Castellan, Julian Arcas, terpukau dengan bakat musik Tarrega kecil. Julian kemudian mengajak Tarrega hijrah ke Barcelona untuk menalami pengetahuan musiknya, setelah meminta izin dari ayah Tarrega. Di kota ini, Tarrega bergabung dengan grup musik muda. Selain sekolah musik, ia menyambi bekerja di kafetaria dan restoran, sebagai pianis. Namun, karena kondisi kesehatan ayahnya yang parah saat itu, ia pun kembali Villareal.

Ia kemudian ditawari sebagai pianis di Burriana’s Casino. Namun ia tetap mempelajari gitar. Seorang pengusaha kaya, Antonio Casena, kemudian mengajak Tarrega ke Madrid untuk memperdalam pengetahuan musiknya di sekolah musik Spanish Music Conservatory. Ia membawa gitar pertamanya, buatan tangan Antonio Torres dari Sevilla, yang kemudian menjadi gitar bersejarah sepanjang hidupnya.

Meski pada saat itu, gitar masih menduduki posisi rendah untuk panggung konser bila dibandingkan dengan piano, namun Tarrega menunjukkan bahwa gitar tenyata mampu menjadi alat musik pengiring vokal dalam sebuah konser. Seorang guru musik di Spanish Music Conservatory, Emmilio Arrieta, yang melihat kemampuan gitar Tarrega lalu mengusulkannya untuk beralih dari piano dan mendalami gitar.

“Gitar memanggilmu, dan kamu memang terlahir untuk gitar,” kata Arrieta. Sejak saat itu, Tarrega meninggalkan piano dan mulai mendalami gitar dengan lebih serius. Pada 1880, Tarrega mendapat tugas baru sebagai gitaris, ketika ia menggantikan Luis de Soria di kota Novelda (Alicante).

Karirnya sebagai gitaris semakin naik. Pada 1881, Tarrega hijrah ke Prancis. Setelah penampilannya di Opera Theatre Lyion, Prancis, ia menduduki posisi terhormat sebagai gitaris. Di Paris, Odeon, ia tampil pada peringatan dua tahun kematian Pedro Calderón de la Barca. Selain itu, Tarrega juga pernah diundang untuk bermain untuk Ratu Spanyol, Isabel II. Dari sana, ia hijrah ke London. Di kota ini juga ia menikah dengan Maria Rizo.

Ada cerita kecil di balik konser Tarrega di London, pada 1882. Beberapa temannya sesama musisi melihat ada sesuatu yang kurang selama konser berlangsung. Seusai konser, temannya berujar, “Ada apa maestro? Apakah kamu sedang kehilangan sesuatu, rumahmu atau anggota keluarga mungkin, sehingga permainanmu tadi kurang bersemangat?”

Tarrega bersedih, karena konser itu telah membuat ia dan teman-temannya kecewa. Lucunya, teman-temannya mengusulkan agar Tarrega menggubah sebuah lagu dari peristiwa kecil yang ternyata menyedihkan itu. Hingga terciptalah, repertoir yang sampai saat ini masih “hidup”. Karya itu adalah “Lagrima”.

Sepulang dari London, Tarrega melanjutkan tur pertunjukannya secara rutin. Mulai dari Perpignan (Prancis), Cadiz (Spayol), Nice (Prancis), Mallorca (Spanyol), Paris, dan Valencia. Di Valencia dia bertemu dengan Conxa Martinez, yang memberikannya sebuah rumah di Sant Gervasi Barcelona, yang kelak menjadi tempat di mana ia banyak melahirkan sejumlah karya besar (masterpieces). Di kota ini juga, Tarrega berkenalan dengan beberapa komponis besar Spanyol, seperti Isaac Albéniz, Enrique Granados, Joaquín Turina dan Pablo Casals.

Salah satu karya masterpiece-nya adalah “Recuedos de la Alhamra” (Memori Alhamra) yang mengaplikasikan teknik treemolo. Repertoir ini ia gubah sepulang dari Granada. Selama di Alegria ia lalu terinspirasi untuk menciptakan “Danza Mora”. Di sini pula ia bertemu dengan seorang komposer Saint-Saens. Yang kemudian, di Sevilla, ia menggubah “Estudios”. Dan salah satu masterpiece yang tak boleh dilupakan oleh para gitaris klasik adalah “Capricho Arabe”, yang ia dedikasikan untuk sahabatnya.

Namun, sepanjang Tarrega menjadi gitaris, ia tak pernah puas dengan kualitas suara gitar yang ia mainkan. Dan pada 1902, ia pun mulai memotong pendek satu persatu kukunya, sehingga nyaris tak kelihatan dari balik kulit daging ujung jarinya. Teknik “picking” inilah yang kemudian ia terapkan kepada sejumlah muridnya.

Di usianya yang ke–50 tahun Tarrega masih sering tampil pada beberapa konser akbar, seperti di Bilbao (Spanyol), Jenewa, Milan, Firence, Naples dan Roma (Italy). Ia telah menunjukkan dirinya sebagai gitaris klasik pertama yang tampil dari konser ke konser besar di belahan dunia.

Pada 1908 Oktober, Tarrega kembali ke Castellon mengulangi nostalia musiknya. Ia kemudian konser di Novelda pada 1909, Valencia, Cullera dan Alcoi. Ia menggubah karya terakhirnya, “Oremus”, di Picanya. Ia kembali ke Barcelona ketika kondisi kesehatannya tak memungkinkan lagi untuk konser. Ia pun menetap di rumahnya di Valencia Street hingga pagi hari pada 15 Desember 1909, saat ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Ya, gitar klasik memang telah menjadi seakan tak akan pernah mati karena Tarrega. Karya-karyanya masih hidup hingga kini. Ada 78 karya original dan 120 karya transkripsinya, yang hingga kini menjadi acuan pelajaran di sekolah-sekolah musik di seluruh dunia. Sebut saja misalnya, mazurka “Adelita” yang sering menjadi rujukan untuk para gitaris pemula. Hingga, karyanya agungnya lainya, “Grand Vals”.

Selama hidup hingga akhir khayatnya, Tarrega telah menciptkan ratusan aransmen untuk solo gitar. Selain itu, ia juga banyak mentraskipsikan gubahan-gubahan musik komponis besar, seperti Ludwig van Beethoven, Frederic Chopin, dan Felex Mendelssohn.

Salah satu teknik (selain teknik “picking” treemolo), yang diperkenalkan Tarrega ke dalam permainan gitar klasik ialah penggunaan jari manis (m) tangan kanan untuk memetik senar gitar (‘picking”), di mana sebelumnya hanya menggunakan jempol (p), telunjuk (i) dan jari tengah (a).

Tangan dingin Tarrega juga telah banyak melahirkan gitaris-gitaris klasik, yang pada era berikutnya telah mengangkat ekslusivitas gitar ke panggung musik klasik. Selain Emmilio Pujol dan Miquel Llobet, salah satu muridnya – meski pernah mengundang kontroversi – yang dikenal banyak berjasa menaikkan martabat gitar klasik di kancah konser musik klasik dunia, adalah Andres Segovia (1893-1987).

Segovia adalah gitaris Spanyol yang pertama kali mentranskripsikan gubahan musik Johann Sebastian Bach, “Chaconne in D Minor”, ke dalam partitur gitar. Dan memainkannya pada pertunjukkan konser klasik. Segovia dikenal sebagai pelopor gitaris klasik modern, yang hingga akhir hidupnya mendedikasikan dirinya untuk alat musik “sederhana” namun bersahaja, bernama gitar. (The Muse; Tonggo Simangunsong; Wikipedia dan berbagai sumber).

MENGENAL DUNIA GITAR KLASIK oleh Andre Indrawan

Pengantar

Gitar adalah alat musik yang paling terkenal di seluruh dunia. Alat musik ini dimainkan dengan cara yang berbeda-beda menurut tipe atau jenisnya. Di antara sekian banyak tipe gitar, jenis gitar klasik adalah salah satu alat musik yang digunakan terutama untuk membawakan karya-karya solo musik klasik. Untuk memperoleh deskripsi umum tentang gitar klasik marilah kita simak sejarah, konstruksi, teknik permainan, sistem pendidikan, dan pemain-pemainnya.

Sejarah singkat

Kata ‘gitar’ atau guitar dalam bahasa Inggris, pada mulanya diambil dari nama alat musik petik kuno di wilayah Persia pada kira-kira tahun 1500 SM yang dikenal sebagai citar atau sehtar. Alat musik ini kemudian berkembang menjadi berbagai macam model gitar kuno yang dikenal dengan istilah umum tanbur. Pada tahun 300 SM Tanbur Persia dikembangkan oleh bangsa Yunani dan enam abad kemudian oleh bangsa Romawi (Bellow, 1970:54-55). Pada tahun 476M alat musik ini dibawa oleh bangsa Romawi ke Spanyol dan bertransformasi menjadi: (1) guitarra Morisca yang berfungsi sebagai pembawa melodi, dan (2) Guitarra Latina untuk memainkan akor. Tiga abad kemudian bangsa Arab membawa semacam gitar gambus dengan sebutan al ud ke Spanyol (Summerfield, 1982:12). Berdasarkan konstruksi al ud Arab dan kedua model gitar dari Romawi tersebut, bangsa Spanyol kemudian membuat alat musiknya sendiri yang disebut vihuela. Sebagai hasilnya, vihuela menjadi populer di Spanyol sementara alat-alat musik pendahulunya sedikit demi sedikit ditinggalkan. Walaupun demikian al ud dibawa orang ke negara-negara Eropa Barat dan menyaingi popularitas vihuela di Spanyol. Di Eropa al ud disambut dengan baik dan berkembang menjadi berbagai model lute Eropa hingga kira-kira akhir abad ke-17. Sementara itu vihuela berkembang terus menjadi berbagai macam gitar selama berabad-abad hingga akhirnya menjadi gitar klasik yang digunakan pada saat ini.

Konstruksi gitar klasik

Tubuh gitar klasik terdiri dari tiga bagian utama yaitu kepala, leher dan badan. Pada bagian kepala terdapat mesin penala dawai. Dawai gitar yang berjumlah enam utas masing-masing diikatkan pada enam buah pasak yang merupakan bagian dari mesin penala. Bagian leher terdapat di antara kepala dan badan. Bagian muka leher yang masuk hingga kira-kira seperempat papan muka dari badan gitar, merupakan papan jari yang memiliki 19 pembatas dari logam yang dikenal dengan sebutan fret. Fungsinya adalah untuk memproduksi tingkat ketinggian nada yang berbeda dengan jalan menempatkan jari-jari pada ruang-ruang di antara logam-logam fret. Bagian badan gitar berfungsi sebagai tabung resonator untuk memperbesar bunyi yang dihasilkan oleh getaran dawai. Papan muka pada badan gitar yang bahan kayunya lebih tipis dibanding papan belakang dan samping, disebut juga sebagai papan suara. Pada papan suara terdapat lobang suara untuk mengeluarkan hasil produksi bunyi. Pada dasarnya bunyi gitar dihasilkan oleh getaran dawai-dawai yang terentang di antara batang penyanggah dawai yang merupakan pembatas antara kepala dan leher (disebut nut) dengan gading pembatas (disebut bridge) pada pangkal pengikat dawai di atas papan suara (disebut base).

Teknik umum permainan gitar

Teknik umum yang digunakan dalam membawakan gitar klasik meliputi cara memegang dan cara memainkan. Gitar dipegang dengan pertolongan footstool, yaitu alat penyanggah kaki yang dapat diatur tingkat ketinggiannya. Dalam keadaan duduk di atas kursi tanpa lengan, kaki kiri menginjak footstool sementara gitar diletakkan di atas paha kiri. Dalam posisi ini, di samping bagian atas paha kiri, ada tiga tempat lain pada tubuh pemain yang menahan kemantapan posisi gitar: (1) bagian dada, (2) titik tumpuan lengan kanan di antara pergelangan dan sikut, dan (3) bagian dalam paha kanan.

Dalam kurun waktu sekitar lima tahun terakhir telah diproduksi berbagai alat lain sebagai alternatif dari footstool seperti misalnya guitar rest oleh Wolf Orchestral Accessories, dan A Frame™ oleh Sageworks – keduanya buatan Amerika. Dengan peralatan baru semacam ini kaki kiri dapat tetap menginjak lantai sehingga pemain merasa lebih rileks dan berkonsentrasi terhadap musik yang sedang dibawakan.

Dawai-dawai gitar dipetik oleh jari-jari tangan kanan dengan dua cara. Yang pertama disebut apoyando (diambil dari bahasa Spanyol) yang dilakukan dengan petikan jari yang gerakannya berhenti ketika menyentuh dawai berikutnya di atas dawai yang sedang dipetik. Teknik ini akan memproduksi sebuah nada tunggal yang berat atau mantap sehingga penggunaannya yang lebih tepat untuk membawakan melodi. Teknik yang kedua disebut al ayre yang diterapkan dengan cara menghindari dawai berikutnya di atas dawai yang dipetik. Petikan ini menghasilkan suara yang ringan dan memungkinkan jari-jari untuk membunyikan beberapa nada secara simultan. Dengan demikian petikan al ayre lebih sering digunakan untuk membawakan bagian-bagian akor (chordal passages) dan arpeggio (broken chord).

Tingkat ketinggian nada (pitch) diproduksi dengan dua cara dan kombinasi di antara keduanya. Cara pertama adalah sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan tentang fingerboard dimuka, ketinggian nada-nada dihasilkan dengan cara menempatkan jari-jari kiri pada petak-petak fingerboard dengan gerakan horizontal. Cara kedua adalah dengan petikan jari-jari tangan kanan yang melintasi keenam dawai secara vertikal. Dawai gitar teratas memiliki tingkat ketinggian nada yang paling rendah, demikian secara berurutan ke bawah memiliki tingkat ketinggian yang lebih tinggi. Dengan demikian, pada cara pertama tingkat ketinggan nada diproduksi dengan gerakan ke kiri untuk memperoleh nada-nada rendah dan ke kekanan untuk nada-nada atas. Sedangkan pada cara yang kedua gerakan jari keatas untuk menghasilkan nada-nada yang rendah dan ke bawah untuk menghasilkan nada-nada yang tinggi.

Sistem tingkat ketrampilan gitar klasik

Hingga saat ini dalam pendidikan musik terdapat berbagai sistem tingkat ketrampilan gitar klasik (grading system) dengan konsep yang kurang lebih sama secara umum di seluruh dunia. Di antara perbedaan-perbedaan yang ada biasanya terjadi pada penggunaan repertoar untuk tingkat-tingkat tertentu. Pada saat ini grading sistem diterapkan secara murni oleh badan-badan penguji musik internasional, misalnya Yamaha Music Foundation (Jepang), Australian Music Examination Board (AMEB), Associated Boards of School of Music (Inggris) dan Trinity College (Inggris). Walaupun demikian sistem tingkat ketrampilan tersebut diterapkan secara berbeda di perguruan tinggi tergantung dari program studi yang diambil.

Secara umum tingkat-tingkat ketrampilan untuk gitar (demikian pula untuk alat musik lain) dapat dipisahkan ke dalam tiga kelommpok yaitu tingkat bawah (lower), tingkat atas (higher) dan tingkat diploma. Untuk pemula ditempatkan pada istilah-istilah tingkat yang berbeda seperti tingkat preliminary (AMEB), Initial (Trinity), dan fundamental (Yamaha). Tingkat ketrampilan bawah umumnya mulai dari grade 1 hingga 4 yang kemudian dilanjutkan pada tingkat ketrampilan atas dari grade 5 hingga 8. Tingkat diploma tersusun secara bervariasi, misalnya, AMEB menyediakan tiga tingkatan diploma sementara Performance Certificate yang disediakan Trinity Collge kira-kira setingkat dengan diploma pertama AMEB.

Musik gitar

Musik solo untuk gitar klasik secara teknis dapat dibedakan kepada dua jenis komposisi asli untuk gitar dan hasil adaptasi dari alat musik lain. Hingga saat ini ada dua macam komposisi untuk gitar, yang pertama ialah yang ditulis oleh komponis gitar dan yang kedua oleh komponis non-gitar. Walaupun umumnya para komponis gitar pada paruh kdua abad ke-19 adalah juga gitaris yang handal, sejak permulaan abad ke-20 banyak komponis umum (non-gitar) tertarik untuk menulis komposisi asli untuk gitar. Sebagai contoh komposisi asli yang ditulis oleh komponis gitar misalnya karya-karya dari Fernando Sor, Francisco Tarrega. Sedangkan yang ditulis oleh komponis non-gitar misalnya dari Frederico Torroba, Joaquin Rodrigo, dan Manuel de Falla.

Dalam rangka memperkaya repertoar para gitaris telah banyak melakukan upaya penulisan transkripsi untuk gitar dari instrumn-instrumen lain. Francisco Tarrega (1852-1909) diyakinin sebagai gitaris dan juga komponis pertama dalam upaya ini. Sebagai hasilnya berbagai karya besar yang pernah ditulis pada masa itu dan masa-masa sebelumnya seperti dari komponis J.S.Bach, Mozart dan Beethoven, sejak saat itu menjadi bagian dari repertoar gitar.

Pemain-pemain gitar klasik terpenting

Hingga saat ini terdapat cukup banyak gitaris-gitaris klasik dari berbagai belahan dunia. Di antaranya yang paling terkenal ialah gitaris-gitaris legendaris dan berkaliber dunia yaitu Andres Segovia (1893-1987), Julian Bream (1933 ~), John Williams (1941 ~), K. Yamashita (1961 ~), dan Sigfried Behrend (1933-1991). Di antara mereka, Segovia adalah yang terpenting karena jasanya yang besar dalam perkembangan gitar masa depan gitar klasik sejak awal abad ke-20. Dengan usahanya yang amat produktif dan kreatif beliau telah membawa gitar menjadi sebuah alat musik solo standar di samping piano. Kerjasamanya dengan para musisi dan komponis non gitar telah menyebabkan suatu perkembangan yang drastik pada repertoar gitar. Sejak itu gitar tidak lagi melulu dimainkan solo atau ensambel bersama gitar lain, namun sebagai solois dalam orkestra dan musik kamar. Hampir semua gitaris terkemuka di abad ke-20 termasuk yang telah disebutkan dimuka, lahir dari masterklas-masterklas Segovia.

Penutup

Jadi dibandingkan dengan jenis gitar yang lain, gitar klasik memiliki perkembangan historis yang lebih panjang dan rumit. Karena akhirnya gitar klasik berkembang secara terpisah dari gitar-gitar yang lain, bukan hanya karaketristiknya yang berbeda tapi juga musiknya yang senantiasa didiskusikan dalam arus besar musik klasik. Satu kelemahan gitar klasik dibandingkan dengan alat musik lain ialah volumenya yang paling lemah. Kemiripan karakteristik gitar dengan piano tentu saja telah membuat alat musik ini kalah kuat dan produktif dibanding piano. Satu hal lagi tentang kelemahan gitar ialah bahwa gitar tidak akan pernah menjadi anggota standar orkestra, kecuali sebagai solois. Betapapun juga keunikan gitar telah menciptakan suatu komunitas khusus di seluruh dunia dimana anggota-anggotanya berkomunikasi melalui berbagai festival dan kompetisi internasional, konser-konser, internet, berbagai jurnal gitar, dan rekaman-rekaman. Terlebih penting yang perlu dipertimbangkan ialah bahwa gitar klasik adalah sebuah alternatif instrumen solo yang lebih mudah untuk dipindah-pindahkan (mobile) dan murah di banding piano.

Sumber Tulisan:

Bellow, Allexander. 1970. The Illustrated History of the Guitar. New York: Colombo Publication.

Bobri, Vladimir. 1972. The Segovia Tehnique. New York: Macmilan Co.

Sloane, Irving. 1984. Classical Guitar Construction. New York: Sterling Publishing Co.

Summerfield, Maurice J. 1982. The Classical Guitar: Its Evolution and its Players since 1800. Gateshead, Tyne and Wear: Ashley Mark Pub. Co.

Turnbull, Harvey. 1974. The Guitar from the Renasissance to the Present Day. New York: C. Scribner’s Son.

Fransisco Tarrega, gitaris klasik

Bulu kuduk Anda pasti merinding jika mendengar “Romance D’ Amore” ketika John Williams memainkan gitar klasiknya dengan penjiwaan yang begitu dahsyat. Virtuoso gitar klasik, yang adalah didikan Andres Segovia itu, serasa akan membawa Anda ke dunia cinta (Amore -Red) yang belum pernah Anda jelajahi, barangkali. Ya, begitulah gitar klasik. Akan beragam imajinasi yang tercipta tatkala Anda mau menyisakan waktu Anda untuk mendengarkannya.

Seorang mahasiswa seni musik Universitas HKBP Nommensen yang hingga saat ini masih serius menekuni gitar klasik pernah berkata,” Gitar klasik tak akan pernah mati dimakan usia, sebab ia punya jiwa. Musik-musik klasik yang bisa dibawakan dengan gitar klasik belum bisa dikalahkan oleh musik pop jaman sekarang,” kata Wonter Lesson Purba, lelaki yang mengaku menghabiskan waktunya sedikitnya lima jam lebih untuk berlatih gitar.

Tapi, tahukah Anda, bahwa dalam waktu yang lama gitar dianggap “tak ada apa-apanya”. Sebelum memasuki era abad ke 20, ekslusivitas gitar masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan alat musik klasik sejamannya yang dianggap lebih berhak memiliki tempat untuk sebuah konser klasik. Seperti biola, cello, flute, harva dan piano, misalnya. Posisi gitar dalam kancah konser musik klasik sebenarnya sudah dimulai oleh Fernando Sor.

Fernando Sor (1778-1839) adalah gitaris cum komponis kelahiran Barcelona, yang pertama kali tertarik pada musik setelah ayahnya mengajaknya menonton pertunjukan opera Italia. Sor adalah seorang bekas serdadu, yang dijuluki sebagai “Beethoven of the Guitar”. Salah satu masterpiece -nya adalah “Theme and Variations on Mozart’s the Magic Flute Opus 9″.

Namun, posisi gitar baru menjadi lebih penting ketika Fransisco Tarrega (1852 – 1909) mulai menciptakan gubahan-gubahan untuk gitar solo. Juga, etude-etude, yang ia ajarkan kepada beberapa muridnya, seperti Andres Segovia, Emilio Pujol, Miguel Llobet, yang kelas menjadi pelopor kebesaran gitar klasik di dunia. Dan teknik-teknik gitar klasik yang lebih inovatif. Juga, konser-konser yang fenomenal.

Terrega gitaris kelahiran Villareal, Castellon Spanyol, sebenarnya mengawali karir musiknya sebagai pianis. Guru musik pertamanya adalah Eugeni Ruiz, seorang pemain piano bermata buta. Kemudian ia belajar lagi ke Manuel Gonzalez, yang juga bermata buta. Tarrega sendiri sudah mengalami gangguan penglihatan sejak berusia balita karena kecelakaan. Ia terjatuh ke saluran irigasi di Villareal mengakibatkan gangguan penglihatan sepanjang menjalani karir musiknya.

Pada 1862, seorang komponis dari Castellan, Julian Arcas, terpukau dengan bakat musik Tarrega kecil. Julian kemudian mengajak Tarrega hijrah ke Barcelona untuk menalami pengetahuan musiknya, setelah meminta izin dari ayah Tarrega. Di kota ini, Tarrega bergabung dengan grup musik muda. Selain sekolah musik, ia menyambi bekerja di kafetaria dan restoran, sebagai pianis. Namun, karena kondisi kesehatan ayahnya yang parah saat itu, ia pun kembali Villareal.

Ia kemudian ditawari sebagai pianis di Burriana’s Casino. Namun ia tetap mempelajari gitar. Seorang pengusaha kaya, Antonio Casena, kemudian mengajak Tarrega ke Madrid untuk memperdalam pengetahuan musiknya di sekolah musik Spanish Music Conservatory. Ia membawa gitar pertamanya, buatan tangan Antonio Torres dari Sevilla, yang kemudian menjadi gitar bersejarah sepanjang hidupnya.

Meski pada saat itu, gitar masih menduduki posisi rendah untuk panggung konser bila dibandingkan dengan piano, namun Tarrega menunjukkan bahwa gitar tenyata mampu menjadi alat musik pengiring vokal dalam sebuah konser. Seorang guru musik di Spanish Music Conservatory, Emmilio Arrieta, yang melihat kemampuan gitar Tarrega lalu mengusulkannya untuk beralih dari piano dan mendalami gitar.

“Gitar memanggilmu, dan kamu memang terlahir untuk gitar,” kata Arrieta. Sejak saat itu, Tarrega meninggalkan piano dan mulai mendalami gitar dengan lebih serius. Pada 1880, Tarrega mendapat tugas baru sebagai gitaris, ketika ia menggantikan Luis de Soria di kota Novelda (Alicante).

Karirnya sebagai gitaris semakin naik. Pada 1881, Tarrega hijrah ke Prancis. Setelah penampilannya di Opera Theatre Lyion, Prancis, ia menduduki posisi terhormat sebagai gitaris. Di Paris, Odeon, ia tampil pada peringatan dua tahun kematian Pedro Calderón de la Barca. Selain itu, Tarrega juga pernah diundang untuk bermain untuk Ratu Spanyol, Isabel II. Dari sana, ia hijrah ke London. Di kota ini juga ia menikah dengan Maria Rizo.

Ada cerita kecil di balik konser Tarrega di London, pada 1882. Beberapa temannya sesama musisi melihat ada sesuatu yang kurang selama konser berlangsung. Seusai konser, temannya berujar, “Ada apa maestro? Apakah kamu sedang kehilangan sesuatu, rumahmu atau anggota keluarga mungkin, sehingga permainanmu tadi kurang bersemangat?”

Tarrega bersedih, karena konser itu telah membuat ia dan teman-temannya kecewa. Lucunya, teman-temannya mengusulkan agar Tarrega menggubah sebuah lagu dari peristiwa kecil yang ternyata menyedihkan itu. Hingga terciptalah, repertoir yang sampai saat ini masih “hidup”. Karya itu adalah “Lagrima”.

Sepulang dari London, Tarrega melanjutkan tur pertunjukannya secara rutin. Mulai dari Perpignan (Prancis), Cadiz (Spayol), Nice (Prancis), Mallorca (Spanyol), Paris, dan Valencia. Di Valencia dia bertemu dengan Conxa Martinez, yang memberikannya sebuah rumah di Sant Gervasi Barcelona, yang kelak menjadi tempat di mana ia banyak melahirkan sejumlah karya besar (masterpieces). Di kota ini juga, Tarrega berkenalan dengan beberapa komponis besar Spanyol, seperti Isaac Albéniz, Enrique Granados, Joaquín Turina dan Pablo Casals.

Salah satu karya masterpiece-nya adalah “Recuedos de la Alhamra” (Memori Alhamra) yang mengaplikasikan teknik treemolo. Repertoir ini ia gubah sepulang dari Granada. Selama di Alegria ia lalu terinspirasi untuk menciptakan “Danza Mora”. Di sini pula ia bertemu dengan seorang komposer Saint-Saens. Yang kemudian, di Sevilla, ia menggubah “Estudios”. Dan salah satu masterpiece yang tak boleh dilupakan oleh para gitaris klasik adalah “Capricho Arabe”, yang ia dedikasikan untuk sahabatnya.

Namun, sepanjang Tarrega menjadi gitaris, ia tak pernah puas dengan kualitas suara gitar yang ia mainkan. Dan pada 1902, ia pun mulai memotong pendek satu persatu kukunya, sehingga nyaris tak kelihatan dari balik kulit daging ujung jarinya. Teknik “picking” inilah yang kemudian ia terapkan kepada sejumlah muridnya.

Di usianya yang ke–50 tahun Tarrega masih sering tampil pada beberapa konser akbar, seperti di Bilbao (Spanyol), Jenewa, Milan, Firence, Naples dan Roma (Italy). Ia telah menunjukkan dirinya sebagai gitaris klasik pertama yang tampil dari konser ke konser besar di belahan dunia.

Pada 1908 Oktober, Tarrega kembali ke Castellon mengulangi nostalia musiknya. Ia kemudian konser di Novelda pada 1909, Valencia, Cullera dan Alcoi. Ia menggubah karya terakhirnya, “Oremus”, di Picanya. Ia kembali ke Barcelona ketika kondisi kesehatannya tak memungkinkan lagi untuk konser. Ia pun menetap di rumahnya di Valencia Street hingga pagi hari pada 15 Desember 1909, saat ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Ya, gitar klasik memang telah menjadi seakan tak akan pernah mati karena Tarrega. Karya-karyanya masih hidup hingga kini. Ada 78 karya original dan 120 karya transkripsinya, yang hingga kini menjadi acuan pelajaran di sekolah-sekolah musik di seluruh dunia. Sebut saja misalnya, mazurka “Adelita” yang sering menjadi rujukan untuk para gitaris pemula. Hingga, karyanya agungnya lainya, “Grand Vals”.

Selama hidup hingga akhir khayatnya, Tarrega telah menciptkan ratusan aransmen untuk solo gitar. Selain itu, ia juga banyak mentraskipsikan gubahan-gubahan musik komponis besar, seperti Ludwig van Beethoven, Frederic Chopin, dan Felex Mendelssohn.

Salah satu teknik (selain teknik “picking” treemolo), yang diperkenalkan Tarrega ke dalam permainan gitar klasik ialah penggunaan jari manis (m) tangan kanan untuk memetik senar gitar (‘picking”), di mana sebelumnya hanya menggunakan jempol (p), telunjuk (i) dan jari tengah (a).

Tangan dingin Tarrega juga telah banyak melahirkan gitaris-gitaris klasik, yang pada era berikutnya telah mengangkat ekslusivitas gitar ke panggung musik klasik. Selain Emmilio Pujol dan Miquel Llobet, salah satu muridnya – meski pernah mengundang kontroversi – yang dikenal banyak berjasa menaikkan martabat gitar klasik di kancah konser musik klasik dunia, adalah Andres Segovia (1893-1987).

Segovia adalah gitaris Spanyol yang pertama kali mentranskripsikan gubahan musik Johann Sebastian Bach, “Chaconne in D Minor”, ke dalam partitur gitar. Dan memainkannya pada pertunjukkan konser klasik. Segovia dikenal sebagai pelopor gitaris klasik modern, yang hingga akhir hidupnya mendedikasikan dirinya untuk alat musik “sederhana” namun bersahaja, bernama gitar. (The Muse; Tonggo Simangunsong; Wikipedia dan berbagai sumber).

VIDEO MUSIC © 2008. Design by :vio Templates S